KATA PENGANTAR
puji syukur kami berikan kepada allah swt, karena dengan rahmatnya kami dapat menyelesaikan makalh ini dengan baik.
sebagai manusia biasa, penulis sadar bahwa masih banyak kekurangan dalam makalah ini. oleh karena itu, saran dan kritik yang membangun kami harapkan demi tercapainya makalah yang lebih baik lagi.
semoga makalah ini bermanfaat bagi semua pihak yang membaca. terima kasih.
MALANG, 7 JUNI 2009
PENULIS
I. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Sejalan dengan era reformasi dan pemberlakuan Otonomi Daerah serta pemberdayaan ekonomi rakyat, maka pada beberapa tahun terakhir ini tekanan terhadap kawasan konservasi semakin tinggi. Kondisi aktual saat ini adalah tuntutan otonomisasi dibidang kehutanan, menghasilkan keputusan menteri No. 015/KPTS-II/2000 tentang pemberian wewenang kepada pemerintah daerah untuk memberikan paket hak pemungutan hasil hutan (HPHH) tanpa disertai aturan pelaksanaan dan petunjuk tehnik kepada pemda untuk tindakan pelestarian hutan. Tidak salah bila dalam era otonomisasi daerah kemungkinan meningkatnya ancaman kerusakan sumberdaya hutan sangat tinggi. Perubahan paradigma baru dalam pengelolaan hutan yang mengarah kepada keberpihakan terhadap masyarakat sekitar hutan yang dikenal dengan hutan untuk masyarakat. Hutan merupakan sumber pangan dan protein selain sebagai sumber kayu, serta kepemilikan sumberdaya hutan di Papua sebagian dibawah kepemilikan adat/hak ulayat yang telah dianut sejak dahulu maka tekanan terhadap kawasan konservasi akan semakin tinggi pula. Hal ini akan berdampak pada kondisi kawasan konservasi tersebut. Oleh sebab itu untuk mengurangi tekanan terhadap kawasan konservasi khususnya Distrik Amberbaken dan Kebar yang lokasinya berdekatan dengan Cagar Alam Pegunungan Tamrau yang telah ditetapkan sebagai salah satu kawasan hutan yang oleh pemerintah telah ditetapkan sebagai kawasan konservasi dengan SK Menteri Pertanian Nomor 280/Kpts/UM/11/1982. Distrik kebar dan Amberbaken merupakan 2 distrik dari Kabupaten Manokwari yang keberadaannya mengapit 1/3 kawasan pegunungan Tamrau Utara. Kawasan pegunungan Tamrau Utara merupakan salah satu keterwakilan ekoregion hutan hujan pegunungan di wilayah Vogelkop Papua yang membentang di 2 Kabupaten Manokwari dan kabupaten Sorong Provinsi Irian Jaya Barat. Kondisi masyarakat yang berada di dalam dan sekitar wilayah Tamrau utara, terbagi dalam suku Karon, Mpur, dan Meyakh - Arfak (di wilayah Manokwari). Kehidupan masyarakat masih sangat tergantung pada pemanfaatan sumberdaya alam yang ada. Hal ini didukung dengan mudahnya akses terhadap kawasan konservasi dalam pemenuhan sumber bahan bangunan (rotan, kayu), obat-obatan dan juga perburuan terhadap fauna seperti rusa, babi, kangguru pohon, dan lainnya. Dari sisi budaya, walaupun masyarakat di kawasan ini, berada di 2 wilayah kabupaten tetapi masih terdapat pertalian saudara antara Karon gunung dan karon pantai, Mpur. Beberapa daerah di wilayah sekitar Tamrau Utara, seperti Distrik Kebar Kabupaten Manokwari, memiliki potensi yang cukup dikenal di kota Manokwari, bahkan di luar daerah ini. Produk tersebut antara lain obat- obatan untuk reproduksi bagi manusia (rumput kebar), kacang tanah, rusa, sapi dan potensi bambu yang banyak digunakan oleh masyarakat di daerah ini. Sementara di wilayah pesisir pantai yaitu di Distrik Amberbaken, dikenal dengan produksi kelapa masyarakat, ikan, beras merah, dan kakao. Potensi-potensi tersebut memiliki nilai pasar yang cukup baik di kota Manokwari bahkan di luar kabupaten Manokwari. Seberapa besar potensi sumberdaya alamnya, bagaimana ketersediaan dan berapa besar permintaan pasar belum banyak diketahui karena belum ada data akurat yang dapat dijadikan referensi. Dari sisi penguatan terhadap usaha dan kelembagaan masyarakat di kedua wilayah yaitu di pesisir pantai maupun di daerah pedalaman belum mendapatkan dukungan penuh ari pihak-pihak pemerintah, swasta maupun lembaga- lembaga lain. Dengan demikian perlu dilakukan kajian yang mendalam dan komprehensif tentang dampak pengelolaannya, peningkatan ekonomi masyarakat sekitar kawasan dan pola-pola pengelolaan hutan secara tradisional. Berdasarkan kajian tersebut maka akan dapat diusulkan beberapa kegiatan perekonomian masyarakat yangsesuai dengan kapasitas dan potensi sumberdaya alam serta permintaan pasar
1.2. Permasalahan
Terbukanya isolasi daerah (pembukaan jalan), pemekaran propinsi, kabupaten distrik bahkan pemekaran kampung telah berdampak positif maupun negatif terhadap kawasan konservasi di wilayah kepala burung Papua. Dampak positif, dapat mempermudah akses pemerintah, swasta dalam membantu dan melayani masyarakat sehingga dapat meningkatkan kesejahteraannya. Tetapi disisi negatif, akan mengganggu keberlanjutan kehidupan masyarakat yang hidup masih tergantung kepada sumber daya alam. Akses yang terbuka ini, memudahkan masuknya para pengusaha-pengusaha bermodal besar melihat dan memanfaatkan peluang-peluang ekonomi melalui eksploitasi sumber daya alam yang ada. Kelompok masyarakat atau para pemilik hak ulayat dapat terpancing dengan kehadiran pengusaha yang dengan cepat mampu mempengaruhi masyarakat untuk bekerjasama. Mereka akan melakukan kerjasama untuk memanfaatkan sumber daya alam yang ada tanpa mempertimbangkan kelestariannya berdasarkan aspek konservasi dan ekonomi berkelanjutan bagi masyarakat. Hal tersebut dapat terjadi karena para pengusaha mampu memberikan penghasilan yang besar dan didapatkan secara cepat. Produk masyarakat dapat dilihat dari hasil survey Sosial Ekonomi WWF pada tahun 2001, namun belum ada data yang dapat menginformasikan transportasi, akses ke pasar, jumlah konsumen yang dapat menampung (analisis supply demand) dan harga yang sesuai serta menguntungkan masyarakat. Fasilitasi transportasi dari pemerintah daerah sangat terbatas dan frekwensi ke daerah tersebut cukup rendah. Sebagai contoh, transportasi ke wilayah distrik Distrik Kebar, hanya 1 x dalam seminggu dengan transportasi udara, sedang untuk ke distrik Amberbaken, 1x dalam sebulan dengan transportasi laut. Transportasi darat untuk ke wilayah Kebar, dapat menggunakan kendaraan double gardan dengan biaya sewa cukup tinggi, Rp. 3.000.000/trip dan untuk ke wilayah Amberbaken bila menggunakan carteran perahu dapat mencapai Rp. 5.000 000,- sekali trip. Rendahnya informasi pasar bagi masyarakat, dan terbatasnya fasilitas pendukung transportasi menyebabkan masyarakat sangat sulit memasarkan produknya dengan harga yang sesuai. Ditingkat lokal, masyarakat dapat memasarkan produk dengan harga yang terkadang ditentukan oleh pembeli, sehingga tidak menguntungkan bagi masyarakat. Kerjasama penelitian UNIPA/BPPK Papua Maluku dengan pihak WWF Region Sahul Papua, khususnya kajian pasar produk masyarakat dilakukan untuk di tingkat lokal Manokwari maupun diluar wilayah kabupaten Manokwari. Beberapa pertimbangan penting, untuk penelitian di luar daerah, adalah mengantisipasi melonjaknya produksi lokal masyarakat dan tidak tertampungnya hasil masyarakat di pasar lokal dan juga adanya nilai jual yang lebih menguntungkan bagi masyarakat. Disamping itu, memang beberapa produk masyarakat seperti rumput kebar, telah dikenal di luar daerah yang cukup banyak permintaannya. Diharapkan bahwa kerjasama penelitian ini dapat mengangkat permasalahan produksi dan pemasaran produk lokal ke tingkat pemerintah daerah, pihak swasta, masyarakat dan lembaga-lembaga lain sehingga dapat menanggulangi permasalahan tersebut sehingga kesejahteraan masyarakat tercapai dan disisi lain akan mendukung upaya konservasi di wilayah Kebar dan Amberbaken.
1.3. Tujuan
Tujuan dilakukan penelitian ini, kerjasama WWF Region Sahul dan Universitas Negeri Papua (UNIPA) Manokwari adalah :
Identifikasi potensi produk-produk lokal masyarakat Kebar yang memiliki nilai jual baik lokal maupun di luar kabupaten Manokwari.
Teridentifikasi, keahlian dan kapasitas sumberdaya masyarakat, kelembagaan ekonomi, di distrik Kebar
Adanya hasil Analisis permintaan dan ketersediaan (supply demand) produk-produk lokal dari distrik Kebar.
Identifikasi potensi pasar akan produk-produk masyarakat di distrik Kebar dan berupa daftar dealer atau pedagang besar di Kota Manokwari.
Adanya rekomendasi berupa strategy pengembangan dan action plan lengkap dengan hasil analisisnya (justification) bagi WWF Region Sahul dan Mitra (NGO lokal), tentang kegiatan perekonomian masyarakat untuk produk-produk yang memiliki aspek pasar, bagaimana mekanisme penguatan ditingkat masyarakat, permintaan ditingkat konsumen dan strategy keberianjutan penguatan di tingkat ekonomi masyarakat. Rekomendasi yang diusulkan merupakan suatu hasil feasibility study untuk beberapa kegiatan perekonomian masyarakat yang akan meningkatkan kesejahteraan mereka dan mempertahankan kelestarian sumberdaya alamnya.
Memberikan masukan bagi pemerintah daerah Kabupaten Manokwari, sehingga dapat dipakai sebagai bahan acuan dalam penyusunan perencanaan pembangunan ekonomi.
II. METODOLOGI PENELITIAN
2.1. Waktu dan Tempat Pelaksanaan
Kegiatan Pengumpalan data sampai dengan Seminar Hasil Penelitian di tingkat kabupaten direncanakan mulai bulan Oktober dan Desember . Jadwal kegiatan secara rinci dapat dilihat di tabel 1. Lokasi penelitian adalah masing-masing di 5 (lima) kampung Distrik Kebar dan Amberbaken diikuti dengan inventarisasi potensi pasar di Biak, Jayapura dan Manokwari. Untuk kegiatan Seminar akan dilakukan dalam 2 tahap, yaitu seminar di tingkat distrik dan seminar tingkat Kabupaten.
2.2. Alat dan Bahan
Data yang diperlukan untuk dianalisis adalah data primer dan sekunder. Data primer akan diambil secara langsung di lapangan dengan berpedoman pada kuesioner atau guideline pertanyaan/diskusi. Data sekunder akan diperoleh dari berbagai informasi dan data dari berbagai institusi yang relevan, dokumen atau pustaka referensi atau hasil-hasil penelitian yang relevan.
Adapun data primer yang akan dikumpulkan antara lain:
1.Daftar permintaan produk lokal masyarakat kebar dan Amberbaken yang ditunjukkan dengan daftar nama konsumen, jumlah yang diminta, permintaan tiap bulan dan lainnya. (Bila ada kesepakatan)
2.Mendata nama lembaga ekonomi di setiap kampung yang ada dan bagaimana kondisinya (keanggotaan, modal, usaha yang dikembangkan) bagaimana peran pemda, LSM, pihak gereja dan lainnya.
3.Diskusi dengan pihak Merpati, AMA, Celebes, untuk pemuatan hasil produk masyarakat ke luar daerah (prosedur, analisis biaya, dan lainnya).
Data sekunder yang akan dikumpulkan antara lain:
1.Data Pertanian di Kabupaten Manokwari untuk 5 tahun terakhir tentang komoditi di distrik Kebar, Amberbaken, Manokwari
2.Data Perikanan Manokwari, Produksi hasil tangkapan nelayan ikan di distrikAmberbaken 5 tahun terakhir.
3.Data Dinas Perkebunan Manokwari, tentang Produksi Kakao di distrik tentang Produksi Kakao di distrik Amberbaken, 5 tahun terakhir
4.Data dari Kantor Dept. Koperasi Manokwari tentang perkembangan lembaga-lembaga ekonomi di wilayah Kebar dan Amberbaken.
5.Data Harga Komoditi di tingkat Manokwari dan Dinas Perdagangan Manokwari.
6.Laporan-laporan Survey di Kawasan Tamrau Utara di Wilayah Manokwari (Biologi, sosial dan ekonomi).
7.Bila survey di luar kabupaten Manokwari, maka data sekunder berasal dari instansi terkait.
8.Data dari Bappeda masing-masing wilayah untuk mendapatkan informasi tentang renstra wilayah terkait dengan pembangunan kehutanan berbasis masyarakat yang ada di wilayah tersebut. Untuk menunjang kegiatan survey dan seminar dibutuhkan alat dan bahan pendukung lain yaitu :
a) Peta Dasar Kebar dan Amberbaken, d) Kamera
b). GPS e) kompas, dan peralatan lapangan lainnya
c) Handycamp
2.3. Tim Peneliti
Tim peneliti terdiri atas tim WWF Manokwari dan dari Universitas Negeri Papua dan Badan Balai Penelitian dan Pengembangan Kehutanan Papua Maluku. Jumlah tim Peneliti terdiri dari 8 orang dengan keahlian dari bidang sosial budaya, ekonomi pertanian- kehutanan, dan ekologi kehutanan.
2.4. Metode Pengumpulan dan Analisis Data
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan tehnik wawancara pada beberapa masyarakat di 5 kampung di Amberbaken dan Kebar, penampung hasil /pasar lokal yang dikombinasikan dengan Fokus Group Diskusi. Jumlah sampel di setiap wilayah disesuaikan dengan jumlah populasi/masyarakat total didistrik dan yang ada di kampung lokasi penelitian. Berdasarkan hasil survey WWF Manokwari tahun 2001 diketahui bahwa jumlah penduduk di Distrik Kebar sebanyak 485 kepala keluarga (KK) sehingga yang akan diambil sebagai sampel sebanyak 15% yaitu sebanyak 73 KK. Jumlah sampel di setiap kampung akan diperhitungkan secara proporsional dan ditentukan secara purposive sampling disesuiakan dengan kriteria-kriteria yang telah disepakati, yaitu terdiri atas kaum muda sampai tua, lelaki dan wanita, mewakili berbagai profesi yang ada (pemerintah, dokter / bidan / mantri kesehatan, guru dan sebagainya), merupakan tokoh adat atau tokoh agama Adapun kampung-kampung yang akan diambil sampelnya di Distrik Kebar adalah: kampung Anjai (jumlah total penduduknya adalah 90
KK), Senopi (80 KK), Akmuri ( 50 KK), Jandurau (60 KK), dan Inambuari ( 75 KK). Data dan informasi yang terkumpul kemudian ditabulasi dan dianalisis secara deskriptif. Hasil analisis dari lapangan akan digunakan sebagai acuan jenis-jenis komoditas masyarakat yang potesial untuk survey pasar di Manokwari. Kemudian hasil draft laporan dipresentasikan ke masyarakat responden dan distrik untuk memvalidasi hasil. Setelah direvisi lalu dipresentasikan ke tingkat kabupaten untuk dapat disusun rencana tindak lanjut yang konkrit di lapangan dan di tingkat kabupaten (Perda PSDA). Diharapkan Januari 2005 sudah dapat dilakukan aplikasi program perekonomian masyarakat di lapangan
2.5. Variabel Pengamatan
Variabel-variabel yang disepakati adalah variabel dari berbagai aspek, yaitu aspek ekonomi, sosial dan ekologi. Variabel dapat tertuang di dalam quetioner, atau guideline daftar pertanyaan bagi responden baik sebagai pertanyaan terbuka atau tertutup. Selain itu variabel ekologi diambil datanya secara langsung berdasarkan metodologi yang dibenarkan secara ilmiah dan telah disepakati. Variabel-variabel sosial antara lain variabel kelembagaan lokal dan kondisi sosial masyarakat terkait dengan adat, budaya, dan kebijakan lokal yang dipunyai terkait dengan pengelolaan sumberdaya alam. Variabel-variabel ekonomi yang akan diambil datanya antara lain meliputi besaranya income per bulan masyarakat, sumber income, lembaga ekonomi masyarakat lokal dan juga lembaga ekonomi eksternal yang mempunyai peranan atau terkait dengan perekonomian produk lokal masyarakat. Variabel-variabel ekologi yang akan diteliti adalah variabel yang terkait dengan kapasitas sumberdaya masyarakat dalam pengelolaan dan upaya konservasi sumberdaya alam, daya dukung wilayah, tolok ukur keberhasilan atau pengembangan upaya konservasi sumberdaya alam
III. KEADAAN USAHA TANI MASYARAKAT KEBAR
Masyarakat di Distrik Kebar dikategorikan sebagai masyarakat agraris karena sebagian besar penduduknya bermatapencaharian sebagai petani disamping meramu/ memungut hasil hutan. Dalam melihat usahatani ini beberapa hal yang akan dilihat adalah:
- Sistim Penggunaan Lahan
- Tipe Usahatani
- Corak Usahatani
- Pola Usahatani
- Tahapan Pengelolaan Kebun
3.1. Sistim Penggunaan Lahan
Sistim usahatani masyarakat Kebar adalah Sistim berpindah yang berotasi, sistim ini secara turun temurun telah dianut oleh masyarakat Kebar dalam menjalankan usahataninya. Dengan cara ini mereka berusaha untuk memperoleh tanah dengan tingkat kesuburan yang baik sebagai media tanam dari komoditas yang diusahakan, dengan demikian maka mereka memperoleh produksi yang lebih baik secara kwantrtas disbanding yang tidak berpindah. Cara ini dianut karena ketersediaan lahan yang ada disekitamya memungkinkan untuk itu dan sejauh ini ketersediaan lahan belum menjadi permasalahan untuk berkebun. Dengan demikian jika dikaji lebih jauh terhadap pola berpindah-pindah yang dilakukan oleh masyarakat Kebar ini ternyata dari hasil penelitian juga tergambar bahwa petani akan membuka kembali kebun yang pernah ditanaminya dan telah ditinggalkan selama 4-5 tahun, hal ini dicirikan dengan telah tumbuhnya hutan sekunder dan sudah tidak tumbuh semak yang menutupi tanah dengan demikian petani menganggap tanah tersebut telah subur kembali. Rata-rata Pemilikan kebun tiap petani adalah 4-5 buah yang rata ukuran luasnya adalah 0,25 ha, namun untuk beberapa orang terutama kepala suku atau pemilik ulayat bisa lebih dari jumlah tersebut. Dengan demikian dapat digolongkan bahwa sistim berpindah- pindah yang dilakukan oleh masyarakat adalah sistim berpindah yang berotasi, dalam arti bahwa setelah 4-5 tahun mereka akan kembali membuka kebun yang pertama diusahakan. Atau rata-rata satu kebun diusahakan selama setahun. Jadi tidak tampak bahwa petani setempat membuka hutan primer terus-menerus, tetapi hutan pada suatu hamparan tertentu dimanfaatkan lahannya untuk berkebun dengan sistim rotasi. Melalui sistim seperti ini petani Kebar secara tidak langsung telah berupaya untuk menyeimbangkan antara fungsi produksi lahan dan menjaga kelestarian usahatani sehingga usahataninya dalam dilakukan terus menerus/ berkelanjutan dalam tingkat produktifitas yang baik namun juga menjaga kelestarian hutan sekitarnya. Hasil pengamatan ini juga memperlihatkan bahwa pada wilayah-wilayah hutan tertentu seperti pada Cagar alam Tamrau Utara pada bagian wilayah Kebar dapat dikatakan seluruh hutannya masih utuh dan asli karena tidak pernah dibuka oleh masyarakat untuk berkebun. Dilihat dari kepemilikan lahan, maka kepemilikan lahan kebun adalah kepemilikan dalam keluarga atau marga.
Adapun sistim penggunaan lahan masyarakat/ petani di Kebar dapat
digambarkan sebagai berikut
C Kebun. 1 >\ f Kebun 2 Sekali rotasi ± 5 tahun
3.2. Tipe Usahatani
Tipe usahatani adalah penggolongan usahatani berdasarkan jenis-jenis tanaman yang diusahakan pada lahan basah atau lahan kering Untuk Kebar terlihat bahwa jenis-jenis tanaman yang ditanam di kebun diantaranya adalah Kacang tanah, Bawang merah, Kacang ijo, Singkong, Ubi jalar, Keladi, sayur-sayuran dll, dengan demikian maka tipe usahatani petani Kebar adalah tergolong Tipe usahatani lahan kering. Tumpangsan dalam kebun Tanaman kacang tanah Policuliur di kebun
3.3. Corak Usahatani
Corak usahatani dalah pengamatan terhadap tujuan utama mengusahakan usahatani yang ada yaitu bisa cenderung untuk memenuhi kebutuhan keluarga atau cenderung bersifat komersil. Pengamatan pada petani masyarakat setempat terlihat bahwa masyarakat Kebar cenderung mengarah pada corak usahatani subsisten atau mengutamakan memenuhi kebutuhan keluarga, corak ini berbeda dengan corak komersil yang mengutamakan produk pertaniannya dipasarkan atau untuk memperoleh pendapatan. Hai ini terlihat dari peruntukan jenis jenis komoditas yang diusahakan/ditanam dalam areal satu kebun terdapat banyak jenis yang ditanam untuk tujuan konsumsi keluarga seperti Ubi jalar, Keladi, Singkong, berbagai jenis sayuran, tebu, Pisang dll. Jenis-jenis yang ditanam untuk tujuan dijual adalah yang utama Kacang tanah, lalu bawang merah, lombok/ rica, kacang ijo, jenis -jenis ini biasanya untuk dipasarkan ke kota Manokwari atau ke pedagang pengumpul di Kebar yang nantinya juga akan dipasarkan ke Manokwari, jenis tanaman lainnya kadang- kadang dijual lokal seperti ubi-ubian, sayuran, pisang dll tetapi ini terjadi hanya jika kebutuhan untuk keluarga telah terpenuhi dan ada kelebihan untuk dijual.
Jika dikaji berdasarkan jenis-jenis komoditas yang ditanam maka
kecenderungannya dapat digambarkan pada tabel berikut ini
Tabel. 2, Jenis- jenis komoditas yang ditanam oleh petani dan
kecenderungan pemanfaatannya
No
Jenis komoditas dengan
kecenderungan komersil
Jenis komoditas dengan
kecenderungan subsisten
1
Kacang tanah
Ubi jalar
2
Buah merah
Keladi
3
Bawang merah
Singkong
4
Kacang ijo
Beragam sayuran
5
Lombok/rica
6
Pisang
7
Tebu
8
Buah-buahan
Terlihat bahwa jenis-jenis tertentu saja yang diutamakan untuk dijual, halnini dilakukan oleh masyarakat karena factor yang dominan berpengaruh untuk pemasaran adalah transportasi untuk memasarkan ke Manokwari,nsehingga jenis-jenis yang komersil adalah yang diperhitungkan dapatnbertahan lama disimpan, tidak mudah rusak diperjalanan dan harganyandapat bersaing di pasar. Adapun transport ken Manokwari yaitu dengannPesawat udara dengan biaya Rp 5.000/kg atau jika lewat darat maka menggunakan Jip Hartop Rp 3.000/ Kg dengan lama perjalanan kurang lebih 16 sampai 20 jam perjalanan dengan resiko kerusakan hasil bumi cukup tinggi. Sedang-jenis-jenis yang cenderung untuk kebutuhan keluarga/ subsisten adalah jenis-jenis yang memang merupakan makanan pokok masyarakat, tidak dapat disimpan lama dan kurang memiliki daya saing di pasar. Hampir seluruh masyarakat Kebar adalah bermatapencaharian sebagai petani disamping memungut hasil hutan, berarti hampir semuanya memiliki kebun untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, oleh sebab itu jarang terjadi adanya pembelian produk pertanian sesama warga, kecuali jika ada jenis komoditas yang tidak ditanaminya dan memang sangat dibutuhkan pada waktu tertentu barulah terjadi jual beli sesama masyarakat atau dapat juga hanya diberikan karena masih memiliki hubungan keluarga. Pemasaran lokal yang terjadi biasanya dari masyarakat ke pegawai pemerintah yang bertugas di daerah ini atau orang yang datang dari luar Kebar.
3.4. Pola Usahatani
Pola usahatani ditentukan oleh banyaknya cabang usahatani yang diusahakan. Jika dilihat dari keragaman usahatani maupun jenis tanaman yang diusahakan oleh petani di Kebar, maka digolongkan dalam pola yang tidak khusus, artinya bahwa satu keluarga tani biasanya selain mengusahakan kebun ia juga memeliharan ternak ayam, selain itu dalam
satu kebun ditanam berbagai jenis tanaman (polykultur). Biasanya Kacang tanah ditanam lebih dulu lalu diikuti oleh jenis lainnya yaitu jenis-jenis seperti bawang merah dan jenis-jenis untuk kebutuhan pangan keluarga. Rata-rata dalam suatu kebun terdapat sekurang-kurangnya 6 jenis tanaman. Sedang untuk ternak ayam hanya dilakukan di pekarangan dan jarang dalam kandang, usaha ini kurang intensif dan biasanya hanya untuk keperluan sendiri.
3.5. Tahapan Pengelolaan Kebun
Dalam mengusahakan kebun, petani di daerah ini telah memiliki tahapan kerja tertentu yang dianut secara turun temurun. Tahapan tersebut dapat digambarkan sebagai berikut;
Memilih calon
lahan
Calon lahan adalah tanah ulayatnya atau tanah yang dimiliki klannya, kemudian lahan yang subur dgn ciri, jika bekas kebun sudah tumbuh menjadi hutan sekunder atau pernah diistirahatkan selama 4-5 tahun, atau hutan primer
Menebas semak
belukar
Memotong tumbuhan semak dalam calon lahan yang telah terpilih
Menebang pohon
Menebang semua pohon di lahan tsb
Pengeringan
oleh Matahari
Dibiarkan selama 2 minggu sampai sebulan agar bagian tanaman terutama ranting dan daun sudah kering
Membakar hasil
tebangan/ tebas
Membakar sisa tebangan dan tebasan
Memotong/
rencek ranting
dan batang
Memotong ranting dan pohon sisa pembakaran menjadi bagian- bagian yang lebih kecil agar mudah diangkut dan dikumpulkan
Membersihkan &
Mengumpulkan
ranting
Mengumpulkan sisa-sisa ranting dan batang pada suatu tempat agar lahan bersih dan mudah ditanami
Menanam
Kacang tanah
Jenis yang pertama ditanam pada lahan yang sudah dibersihkan adalah kacang tanah, karena komoditas ini untuk dipasarkan
Membuat pagar
Kebun
Pembuatan pagar biasanya dilakukan bersamaan dengan menanam kacang tanah, Pagar dibuat agar tanaman yang akan tumbuh terhindar dari serangan babi hutan, babi peliharaan, sapi, atau rusa liar. Faktor gangguan ini yang banyak terjadi sering merugikan petani
Menanam jenis tanaman lain
Jenis yang ditanam berikutnya adalah ubi-ubian, sayur-sayuran pisang, tebu, dll yang biasanya untuk dikonsumsi sendir
Menyiang/
membersihkan
kebun
Termasuk dalam kegiatan ini adalah mencabut gulma yang tumbuh selama masa pertumbuhan tanaman, diselingi juga dengan memperbaiki pagar yang rusak
IV. PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN
4.1. Potensi Produk Lokal Masyarakat di Distrik Kebar
4.1.1. Komoditas Kacang Tanah (Arachys hypogaea)
Proses penelitian sebagaimana terlihat pada lampiran 1 dan untuk penentuan kampung atau desa sebagai lokasi penelitian pengambilan perwakilan dari masing-masing Kebar Barat, Tengah, dan Kebar Timur yaitu kampung Senopi, Akmuri, Anjai, Inam dan kampung Jandurau atau 5 dari 11 kampung di distrik Kebar. Nama responden dan jumlah masing-masing desa sebagaimana terlampir.
Data hasil identifikasi responden dan usahataninya, komoditi unggulan kacang tanah di 5 kampung sebagaimana terlihat di Tabel 1.
Tabel 1. Hasil wawancara dan tinjauan lapangan potensi produksi dan luas usaha tani kacang tanah di distrik Kebar, Nopember
No
Nama kampung
Produksi kacang tanah/tahun
Luas usaha tani
1
Senopi
50kg
0,25hektar
20kg
0,25hektar
18kg
0,25hektar
110kg
0,5hektar
40kg
0,25hektar
total
238kg
1,5hektar
3
anjai
50kg
0,06ha
50kg
0,50hektar
80kg
0,5hektar
100kg
0,5hektar
80kg
0,09hektar
total
360kg
1,65hektar
4
inam
100kg
0,25ha
100kg
0,5ha
60kg
0,5ha
200kg
1ha
80kg
0,09hektar
total
540kg
2,34hektar
5
akmuri
40kg
0,5hektar
60kg
0,12hektar
60kg
0,09hektar
60kg
0,09hektar
60kg
0,5ha
total
280kg
1,3hektar
Berdasarkan Tabel di atas, ternyata dari 5 kampung sebagai lokasi penelitian, 100 % responden mengusahakan tanaman kacang tanah. Produksi tertinggi dari 5 kampung sebagai lokasi penelitian, ternyata kampung Inam memiliki jumlah produksi yang lebih besar dari 4 kampung lainnya yaitu 540 kg (31,62 %). Luasan usaha kacang tanah dari 25 responden adalah 8,42 hektar dengan jumlah produksi 1.708 kg per tahun atau 1,708 ton per tahun.
Rata-rata luas usaha tani dari 25 responden adalah 0,33 hektar dengan menghasilkan 68,32 kg per musim tanam.
Dengan demikian dapat ditaksirkan produksi di masing-masing desa /kampung misalnya 20 orang penduduk di desa Inam dengan kemampuan tenaga kerja dan faktor lainnya dapat mengusahakan kacang tanah adalah 20 x 0,33 x 68,32 kg = 450, 81 kg setiap kali musim tanam. Dengan demikian akan terjadi produksi yang cukup optimal bila ternyata seluruh masyarakat di Kebar mengusahakan kacang tanah.
4.1.2. Komoditas Bawang Merah {Allium sp)
Komoditi kedua setelah kacang tanah adalah usaha tani bawang merah. Hasil Wawancara dengan responden dari 5 kampung di distrik Kebar, masing-masing kampung Senopi, Anjai, Inam, Akmuri, dan Jandurau, sebagaimana terlihat pada Tabel 2
Tabel 2. Data Produksi Bawang Merah, di 5 Kampung di distrik
kebar, Nopember2005
No
Nama kampung
Produksi bawang merah/tahun
Luas usaha tani
1
senopi
50kg
0,10hektar
20kg
0,10hektar
-
-
25kg
0,25hektar
28kg
0,25hektar
Total
123kg
0,7hektar
2
anjai
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
3
inam
10kg
0,05hektar
15kg
0,05hektar
20kg
0,06hektar
40kg
0,20hektar
80kg
-
Total
165kg
4
akmuri
-
-
-
-
-
Total
-
5
jandurau
-
-
-
-
-
total
-
Dari Tabel di atas terlihat bahwa selain kacang tanah, komoditi bawang merah juga diusahakan oleh masyarakat dan khususnya di kampong Senopi dan Inam, sedangkan 3 kampung lainnya tidak mengusahakan.
Jumlah produksi untuk bawang merah, adalah 288 kg per tahun panen.
Hasil bawang merah dr Kebar
Lahan kebun tanam bawang merah biasanya dalam satu hamparan kebun yang sama, namun biasanya bibit bawang merah ditanam pada tempat-tempat bekas pembakaran sisa tanaman hutan Bawang merah tidak selalu dijumpai di setiap kebun
4.1.3. Hasil Hutan /Buruan Masyarakat
Beberapa komoditi lain yang dusahakan oleh masyarakat di distrik Kebar, khususnya beberapa kampung, tidak secara luas diusahakan olehmasyarakat, dapat di lihat pada Tabel 4.
Tabel 4. Potensi lokal masyarakat di distrik Kebar selain kacang tanah,
Nopember 2004
No
Nama kampung
Jenis hasil hutan/tahun
Dijual/tahun
senopi
Tanduk rusa
14kg
jandurau
Gula merah
40kg/tahun
kakao
40x40m
akmuri
Kopi
20kg
kakao
0,5hektar(tdk dijual)
4.1.4 Buah Merah (Pandanus copnoideus ) sebagai potensi ekonomi Bagi masyarakat Kebar
Secara alami di dataran tinggi Kebar banyak tumbuh tanaman Buah Merah (Pandanus conoideus) tanaman ini secara turun temurun oleh masyarakat digunakan sebagai bahan makanan dengan khasiat sebagai penyedap, penambah stamina dan memiliki khasiat obat. Tanaman ini biasanya tumbuh dalam bentuk rumpun yang oleh generasi pendahulu penanamannya juga menandakan kepemilikan wilayah adat yang bersangkutan. Masyarakat di Kebar biasanya mengkonsumsi buah merah ini dalam bentuk pasta yang dicampur dengan sayuran atau ubi-ubian, jarang dikonsumsi dalam bentuk minyak namun dalam bentuk pasta ini tidak dapat bertahan lama karena kandungan air yang ada didalamnya, sehingga mereka telah mencobanya untuk diolah menjadi sari buah yang bentuknya minyak- Saat ini sari buah merah / minyak buah merah telah mulai dikenan dan dimanfaatkan oleh masyarakat non asli dan mulai dikenal di luar daerah, kondisi ini merupakan hal potensial untk meningkatkan pendapatan masyarakat melalui potensi sumberdaya alam lokal yang mereka miliki. Dalam sekali musim panen (2 kali setahun) masyarakat yang memiliki tanaman buah merah biasanya dapat memproduksi 2 sampai 5 liter sari buah merah berarti dalam setahun bisa menghasilkan 4-10 liter sari buah merah. Pemasaran selama ini di lokal Kebar adalah Rp 100.000- 200.000 per liter, sedang di Kota Manokwari Rp 75.000/ 150 ml atau Rp 500.000/ liter. Dengan demikian maka setahun pemilik tanaman buah merah melalui penjualan lokal Kebar dapat memperoleh pendapatan antara Rp 400.000 sampai Rp 2 000.000,-, sedang kalau dijual di kota Manokwari ia dapat memperoleh Rp 2.000.000 sampai 5.000.000,-. Namun permasalahan yang kadang terjadi di petani adalah karena pengolahan / prosesing yang kurang bagus maka terkadang produk sari buah merah yang dihasilkan tidak dapat bertahan karena masih tercampur dengan air atau pastanya, kalau demikian maka produknya tidak dapat dipasarkan.
4.1.5 Jenis Ternak yang dikembangkan oleh Masyarakat
Dari hasil wawancara dengan responden, bahwa ternak yang umumnya dipelihara oleh masyarakat di 5 kampung ini adalah babi, sapi, dan ayam. Khususnya ternak sapi merupakan ternak potensial yang cocok untuk daerah tersebut. Hasil wawancara dengan para responden sebagaimana terlihat di Tabel 5 di bawah ini.
Tabel 5. Jumlah ternak sapi yang diusahakan oleh masyarakat di 5
kampung distrik Kebar, Nopember 2004
No
Nama kampung
Jumlah ternak sapi
Luas usaha tani
senopi
20ekor
Penggembalaan
-
-
-
-
18ekor
Penggembalaan
-
-
total
38ekor
anjai
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
total
-
-
akmuri
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
total
-
-
jandurau
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
total
38ekor
-
inam
-
-
-
-
-
-
-
-
total
-
-
Ternak sapi yang ada saat ini di Kebar sangat jarang dijual hal ini disebabkan karena faktor transportasi yang harus menggunakan pesawat, sementara penerbangan ke Kebar kadang-kadang tidak tentu waktunya, sehingga sering terjadi ternak sudah dipotong tapi pesawat tidak dating sehingga dagingnya rusak karena tidak tahan lama dan tidak ada fasilitas listrik yang memadai untuk pengawetan. Di Kebar tidak biasanya orang menjual daging sapi, penjualan selalu ke Manokwari. Harga pasaran untuk daging sapi di Manokwari saat ini mencapai Rp 30.000 sampai Rp 35.000,- Per kilogram.
4.2. Hasil Pengamatan di Pasar Wosi – Manokwari
4.2.1. Kapasitas Pembelian Kacang Tanah Asal Kebar
Berdasarkan hasil peneltian kajian potensi local malsyarakat di distrik kebar, maka potensi yang umunya diusahakan oleh masyarakat adalah komoditi kacang Tanah (Arachis hypogeae L). Hasil wawacara dengan para pedagang pengumpul di Manokwari, menunjukkan bahwa produksi kacang tanah asal kebar yang dibeli oleh pedagang pengumpul sebagaimana terlihat pada Tabel 6.
Tabel 6. Data jumlah dan harga beli dan jual kacang tanah Asal Kebar oleh Pedagang Pengumpul di Pasar Wosi - Manokwari, Mei
No
Jumlah yang dibeli
Harga beli(Rp)
Harga jual(Rp)
Lama penjualan
1
50kg
8000
10000
4 minggu
2
100kg
8000
10000
4 minggu
3
50kg
7000
10000
4 minggu
4
50kg
7000
10000
4 minggu
5
50kg
8000
10000
4 minggu
6
25kg
8000
10000
4 minggu
7
75kg
10000
12000
3-4minggu
8
75kg
8000
9000
2-3 minggu
9
100kg
10000
12000
3-4 minggu
10
50kg
8000
9000
3-4 minggu
11
50kg
8000
9500
3-4 minggu
12
50kg
8000
9000
3-4 minggu
13
75kg
9000
10000
3-4 minggu
jumlah
Rata2=61,54
Rata2=8230
Rata2=10038
Sumber : Hasil wawancara dengan Pedagang kacang Tanah di Pasar Wosi Manokwari, Mei
Dari Tabel di atas, menunjukkan bahwa setiap pedagang pengumpul di pasar Wosi Manokwari, rata-rata membeli kacang tanah asal Kebar 61, 54 kg, dengan harga beli antara Rp. 7000,- /kg sampai dengan Rp. 10.000,-/kg atau rata-rata 8.23O/kg, Harga jual kacang tanah asal kebar antara Rp. 9000/kg - Rp. 12.000,-/kg atau rata-rata 10,038/kg dan waktu yang diperlukan untuk kacang tersebut akan habis antara 3-4 minggu. Bila dibandingkan dengan Potensi produksi dari kebar untuk 5 kampung ternyata, pasar local di Manokwari belum menampung seluruhnya kacang tanah asal kebar, jumlah 1.708 kg (1,708 ton).
4.2.2. Kapasitas pembelian Kacang Tanah
Transmigrasi Asal Daerah Suplay kacang tanah ke pasaran di Manokwari, ternyata tidak semuanya berasal dari distrik Kebar, tetapi juga dari daerah transmigrasi seperti Prafi, Masni, Oransbari di Manokwari.
Hasil Wawancara dengan Pedagang pengumpul di pasar Wosi
Manokwari dapat dilihat sebagaimana pada Tabel. 7. dibawah ini,
Tabel 7. Data Pedagang Pengumpul Kacang Tanah Asal Petani Transmigrasi SP Prafi Manokwari
No
Jumlah yang dibeli
Harga beli(Rp)
Harga penjualan(Rp)
Lama penjualan
1
50kg
7000
9000
4 minggu
2
50kg
7000
10000
4 minggu
3
25kg
7000
10000
4 minggu
4
50kg
6000
7000
4 minggu
5
75kg
7500
8500
4 minggu
6
75kg
7000
8000
1-2 minggu
7
100kg
7000
8000
3 minggu
8
75kg
7000
8000
3-4 minggu
9
75kg
8000
9000
3-4 minggu
10
75kg
8000
9500
2 minggu
11
75kg
7000
8500
3 minggu
12
75kg
7000
8000
3-4 minggu
13
75kg
7000
8000
3-4 minggu
Rata2=875kg
Rata2=7115
Dari table di atas terlihat bahwa rata-rata petani pengumpul di pasar Wosi Manokwari, dari 13 responden memiliki kemampuan dalam pembelian kacang tanah asal daerah Transmigrasi adalah 67,31 kg. Harga jual beli kacang tanah asal daerah transmigrasi tersebut antara Rp. 6000,-/kg sampai dengan Rp. 8000,-/kg, sedangkan harga jual per kg kacang tanah adalah Rp. 8000,- s/d Rp. 10.000,- rata-rata lama penjualan 3-4 minggu
4.2.3. Pedagang Pengumpul Kacang Tanah asal Surabaya
Dari hasil Wawancara dengan para pedagang pengumpul di Pasar Wosi Manokwari, ternyata dari 13 responden, hanya 3 responden yang membeli kacang tanah asal Surabaya, seperti terlihat pada Tabel 8 di bawah ini.
Tabel 8. Data Pedagang Pengumpul Kacang Tanah Asal Surabaya di Pasar Wosi - Manokwari, Mei 2005
No
Jumlah yang dibeli
Harga beli(Rp)
Harga jual(Rp)
Lama penjualan
1
100kg
6000
8000
4-12 minggu
2
100kg
3000
5000
6 minggu
3
100kg
5000
7000
12 minggu
300kg
Dari Tabel di atas, terlihat bahwa rata-rata kacang tanah yang dibeli oleh 3 responden adalah 100 kg dengan harga beli berkisar antara Rp. 3000,- sampai dengan Rp. 6000,-/kg. Harga jual kacang tanah asal Surabaya berkisar antra Rp. 5000,-/kg sampai dengan Rp. 8000,-/kg, dengan lamanya waktu penjualan antara 4-12 minggu.
4.2.4. Tataniaga Kacang Tanah Asal Kebar
Rantai tataniaga kacang tanah asal kebar dapat digambarkan dalam
dua bentuk sebagai berikut;
petani
Pedagang pengumpul di kebar atau manokwari
Pasar di manokwari
Petani
Pedagang pengumpul di kebar
Pedagang pengumpul di manokwari
Pasar di manokwari
4.2.5. Perbandingan Kualitas Kacang Tanah
Dari hasil wawancara dengan para responden atau pedagang pengumpul tentang kualitas kacang tanah yang baik, dan diminati oleh para pembeli sebagaimana terlihat pada Tabel 9.
Tabel 9. Perbandingan Kualitas kacang Tanah Menurut para
Responden di Pasar Wosi - Manokwari.
No
Asal kacang
Kualitas menurut responden
1
Kebar
Tahan lama (tidak cepat busuk),
Tidak lengket jika digiling, cepat
terjual, dan bulir besar
2
Surabaya
Tidak tahan lama (cepat busuk),
Tidak lengket jika digiling, tidak
cepat terjual, bulir besar.
3
Daerah transmigrasi SPXI
Tahan lama (tidak cepat busuk)
tidak lengket jika digiling , cepat
terjual, bulir sedang)
Dari Tabel di atas terlihat bahwa, kacang tanah asal Kebar dan daerah Transmigrasi memiliki kualitas yang hampir sama (tahan lama/tidak cepat busuk, tidak lengket jika digiling, cepat terjual) tetapi memiliki perbedaan pada besarnya bulir kacang tersebut. Untuk Kacang tanah asal Kebar memiliki bulir lebih besar dan sama dengan kacang tanah asal Surabaya dibandingkan kacang tanah asal daerah Transmigrasi di Manokwari.
Tabel 10. Pembelian kacang Tanah dalam bentuk kulit dari asal di pasar Manokwari, Mei 2005
No
Asal kacang
Kondisi kacang
Jumlah yang dibeli
Harga pembelian (Rp)
Harga jual (Rp)
Lama waktu penjualan
1
kebar
Kulit kering
-
-
-
-
Kulit basah
-
-
-
-
surabaya
Kulit kering
-
-
-
-
Kulit basah
-
-
-
-
Daerah transmigrasi SP
Kulit kering
50kg
5000
7000
4 minggu
Kulit basah
25kg
3500
6000
1-2 hari
Tabel 11. Data Fluktuasi Harga dari masing-masing Responden, untuk Jenis kacang Asal Kacang Tanah Kebar, Mei 2005
Tabel 12. Data Pengumpul Kacang Tanah di Distrik Kebar, setiap panen rata-rata setiap panen atau musim di Kebar, Mei 2005
No
Nama pedagang
Jumlah yang dibeli
Harga beli (Rp)
Harga jual (Rp)
Ibu Tomo
-
-
7500
6000
8000
Tabel 13. Biaya Transportasi Permasaran kacang tanah asal kebar, dan kapasitas Angkut
No
Jenis
Kacang
Tanah
Jenis
Transportasi
Harga
Kapasitas
angkut
Frekwensi
1
kebar
Pesawat AMA
1000/kg
Merpati (Twin
Otter)
5000/kg
9 kg/orang
(dan
jumlah3 -
5 karung
kacang
tanah)
2x
seminggu
(tergantung
cuaca)
Hartop
2000/kg
13 karung,
ukuran 50
kg.
Tergantung
Hartop
2
Surabaya
3
prafi
Sumber : Ibu Tomo / Pedagang di Manokwari
Tabel 14. Pemasaran Hasil Kacang Tanah Asal Kebar ke beberapa Daerah di Papua, 3 Tahun Terakhir
No
Daerah
Distribusi
frekwensi
jumlah
Keterangan
1
Serui
2
Jayapura
3
sorong
2-3ton sekali kirim
Sumber : Ibu Tomo/ Pedagang di Manokwari
4.3. Data Hasil Wawancara dengan Pihak Terkait (Data Sekunder)
4.3.1. Data Dinas Pertanian, Perkebunan dan Koperasi dan Perdagangan.
Dalam upaya peningkatan pendapatan masyarakat dari sector pertanian, perkebunan dan peternakan, di distrik Kebar kabupaten Manokwari, maka beberapa program yang telah dan akan dilakukan bersama instansi terkait terlihat pada Tabel 16.
Tabel 15. Data Bantuan Pemerintah untuk pengembangan Komoditi di Kebar
No
Jenis bantuan
Jumlah kelompok
luasan
Bantuan dana
1
Program Agribisnis
Kacang Tanah - Dinas
Pertanian
kelompok Tani A
10 Ha
Rp. 18 juta
Kelompok Tani B
10 Ha
Rp. 18 Juta
Kelompok Tani C
10 Ha
Rp. 18 Juta
2
Perkebunan Kopi - Dinas
Perkebunan
Kelompok Kopi di
Senopy, Tahun
2004
Kelompok di
Senop
5 Ha di
Akmuri
Bantuan alat
Penggilingan
kopi
3
Koperasi dan
Perdagangan
4
Dinas Pendidikan dan
Kebudayaan (Pariwisata)
Tabel 16. Data Rencana Instansi Terkait dalam pengembangan Ekonomi Masyarakat di Distrik Kebar
No
Instansi terkait
Prioritas program
target
1
pertanian
Lahan tidur-padi sawah dan ladang
950ha
2
Perkebunan dan kehutanan
3
Dinas koperasi dan perdagangan
4
Dinas perikanan kabupaten manokwari
V. KESIMPULAN DAN SARAN
5.1. Kesimpulan
Dari hasil Survey, 5 kampung,di Distrik Kebar menunjukkan, rata-rata setiap penduduk mengusahakan tanaman kacang tanah {Arachys hypogeae L) yang merupakan komoditi unggulan dan telah lama diusahakan oleh masyarakat Kebar.
Dari sisi luasan usaha kacang tanah sebagai komoditi unggulan, rata- rata responden mengusahakan 0,33 hektar dengan jumlah produksi kacang tanah dalam 1 x musim tanam adalah : 68 kg. Dasar ini dapat dipakai untuk memprediksi produk kacang tanah di Kebar untuk 1 kali musim tamam
Jumlah produksi dari 5 kampung, untuk 25 responden menghasilkan 1, 708 ton setiap tahun sementara daya tampung pedangang di pasar Wosi selama ini hanya 800 kg lebih sedikit dibandingkan produksi dari Daerah Transmigrasi Komoditas lokal penting yang berpotensi meningkatkan pendapatan masyarakat Kebar adalah Buah Merah untuk pengolahan menjadi Sah Buah Merah. Komoditi lainnya yang menjadi unggulan adalah tanaman bawang merah {Allium sp), yang hanya diproduksi oleh 2 kampung di yaitu kampung Senopi dan kampung Inam (bagian timur distrik Kebar)
Faktor transportasi menjadi kendala dalam menyuplai kacang tanah asal kebar pasaran di kota Manokwari karena hanya menggunakan pesawat udara atau dengan Jip Hartop dengan resiko kerusakan hasil bumi, sehingga jumlah petani kacang tanah yang hampir merata di 5 kampung atau 11 kampung di Kebar dapat berdampak pada penimbunan kacang tanah di lapangan atau akan mempengaruhi motivasi masyarakat mengusahakan usahatani kacang tanah. Permintaan pasar untuk kacang tanah asal kebar cukup tinggi, dengan harga yang lebih baik dibanding dari daerah Transmigrasi di Manokwari dan dari Surabaya serta waktu untuk 800 kg memakan waktu 4 minggu atau 1 (satu) bulan. Data statistik Sentra produksi kacang tanah terbesar di Manokwari dengan luas dan produksi per ton adalah di di daerah Transmigrasi di Manokwari dapat memenuhi kebutuhan kacang tanah di kabupaten Manokwari, sehingga tidak banyak bergantung dari Kebar, yang terbatas transportasi angkut ke daerah tersebut
5.2. Saran
Faktor transportasi merupakan kendala dalam distribusi hasil kacang tanah asal Kebar, sehingga perlu difasilitasi oleh pemerintah dan pihak swasta baik transportasi udara maupun darat. Untuk mengantisipasi kendala transportasi dan over produksi dan untuk meningkatkan pendapatan masyarakat di Kebar khususnya kacang tanah perlu adanya upaya untuk pengolahan lanjutan seperti menjadi kacang garing, sambal kacang dll disertai dengan pelatihan dan fasilitasi dari pemerintah, LSM dan Swasta. Perlu ada upaya untuk pengembangan usaha bagi masyarakat berdasarkan potensi lokal yaitu Kacang tanah, Buah mer h, Bawang merah, kacang ijo Perlu survey lanjutan untuk kelayakan usaha dan pemasaran di luar Manokwari
Minggu, 11 Oktober 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar